Sidang Tertutup Dilakukan Karena Ada 6 Orang Saksi Palsu

Sidang Ahok

Sidang Tertutup Dikarenakan 6 Orang Saksi Palsu – Jakarta, Monystars.com. Jaksa Penuntut Umum menghadirkan enam saksi dalam sidang kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama alias ‘Ahok’. Namun, saksi yang dihadirkan merupakan saksi pelapor, bukan mereka yang mendengar langsung pidato Ahok yang membawa Surat Al Maidah 51.

Pengamat Hukum Pidana Jamin Ginting mengatakan, saksi harus merupakan orang yang mengalami, melihat, dan mendengar sendiri ketika terdakwa mekukan tindakan pidana. Dalam hukum acara pidana, orang yang melapor bisa saja bukan korban. Namun, seharusnya tak bisa menjadi saksi.

Sidang Ahok
Habib Novel salah satu saksi yang dihadirkan Hakim dalam sidang ke 4 Ahok

Dalam kasus Ahok, yang diduga melanggar Pasal 156 dan 156 A berdasarkan ucapan. Yang menyaksikan, mendengar, dan melihat sendiri ialah warga Kepualauan Seribu dan instansi pemerintah.

“Orang-orang ini lah yang dapat dikatakan sebagai saksi fakta. Ini memberi keterangan, benar pada hari itu, jam itu, tanggal tersebut Ahok mengucapkan kata-kata yang sama persis dengan dakwaan JPU.

Apabila keterangan saksi fakta sama, dakwaan JPU akan kuat, atau sebaliknya. Namun, saksi pelapor justru mengetahui kasus ini dari televisi dan media lain. Mereka hanya mendengar keterangan pihak lain, bukan mereka yang hadir dalam acara.

Sidang Tertutup Dilakukan Karena Ada 6 Orang Saksi Palsu

“Sidang Tertutup Dikarenakan 6 Orang Saksi Palsu Untuk itu. Saksi seperti ini, penasihat hukum (Ahok) bisa menolak keterangan saksi yang di bawah sumpah. Kalaupun dia mau memberi keterangan boleh. Tetapi tidak di bawah sumpah dan keterangan itu tidak bernilai dalam hukum acara pidana,” tegas dia.

Jamin juga menyoroti keputusan hakim menggelar sidang terbuka terbatas, meski sedianya sidang jenis ini bisa dilaksanakan terbuka. Dalam sidang keempat ini, proses hukum tidak boleh disiarkan langsung.

“Dalam pemeriksaan saksi dikatakan harus terbuka terbatas, karena dalam hal saksi memberi keterangan atau satu saksi dan saksi lain tidak boleh bersepakat. Atau saksi lain tidak boleh mendengar keterangan saksi lain,” jelas dia.

Apabila disiarkan langsung, ketika saksi satu memberi keterangan dan saksi lain diminta keluar. Mereka tetap bisa mendengar pernyataan saksi dalam sidang melalui TV atau radio. Kondisi itu dikhawatirkan justru mengarahkan keterangan saksi lainnya.

“Seakan dia mengarahkan keterangan saksi (dalam ruang sidang) bersesuaian dengan keterangan saksi yang di luar. Bisa kompak dia. Ini yang dikhawatirkan hakim,” ucap Jamin.

Sebaliknya berbeda Wartawan online dan cetak diperbolehkan masuk untuk meliput. Untuk yang televisi tidak bisa, dan dipersilakan keluar,” ujar Dwiarso.

Namun pada kenyataannya petugas keamanan dari kepolisian dan Pengadilan Negeri Jakarta Utara meminta media untuk keluar. Bahkan, media online dan cetak yang telah dipersilakan Majelis Hakim turut diminta keluar.

Apa yang dilakukan Petugas keamanan yaitu mengusir Wartawan yang sedang meliput adalah suatu pelanggaran hukum dan dapat dijerat Pidana sesuai UU Pers pasal 18. Ada yang aneh di sidang ini, mengapa sidang ini terasa diistemewakan,” Ujar Lukman Hakim. Domino99, Bandarq, Bandar Poker, Poker Online, Agen Bola, Agen Togel, Prediksi, Agen Poker.

BACA JUGA – AGEN JUDI ONLINE TERBAIK DAN TERPERCAYA

Editor : Lyra_Mia
Sumber : News.metrotvnews.com

Leave a Comment